I gave my all

Image

 

pernah satu masa, aku percaya

bahwa jika apa yang kurasakan padamu tidaklah nyata,

maka tak ada sesuatupun yang nyata di dunia ini…

 

hari demi hari kujalani dengan memandangimu,

menghirup udara yang sama denganmu,

berbagi emosi yang sebegitu dasyatnya hingga aku rela mengorbankan segalanya…

aku percaya perasaanku nyata

tapi, kenyataannya, aku tidak bisa mempercayaimu…

 

saat aku bersiap menghadapi yang terburuk,

kau menyalahkan segala sesuatu selain dirimu sendiri

tentang mengapa kita bertemu

tentang mengapa kau jatuh hati padaku

tentang mengapa kau tak sanggup melepaskanku,

sementara di saat yang sama, kau juga terlalu pengecut untuk hidup denganku

 

mari, biar kujawab konflik batinmu yang sederhana ini

jujurlah pada dirimu sendiri, dan pada orang-orang yang menyayangimu,

karena aku tau

hanya dirimu sendirilah yang sebenarnya kau pedulikan

kau mencintaiku, tapi kau tidak ingin kehilangan impian tentang keamanan dan kenyamanan yang menunggu di depan matamu

kau menangis saat aku pergi, tapi kau tidak mengulurkan tangan untuk mencegahku

 

karena, hanya perasaan yang kau rasakan saat bersamaku lah yang kau cintai

bukan aku,

yang tidak mengenal batasan,

yang begitu labil,

yang tidak menjanjikan surga untukmu,

yang tidak memenuhi ilusimu tentang wanita penurut dan beriman,

yang tidak akan mengalah sekedar karena terlahir sebagai perempuan…

 

tapi tidakkah kau menangis?

tidakkah jiwamu terserak dan hancur berantakan saat kita berpisah?

karena itulah yang kurasakan,

dan sekeping dalam diriku masih meyakini bahwa kau merasakannya juga…

 

berpuluh tahun dari sekarang,

kalau kita bertemu, taukah kau apa yang kuingat?

aku telah mengusahakan segalanya agar kita bersama

dan jika semua itu tidak berhasil,

jika saat aku terpuruk tak ada satupun bukti dari kata-kata cinta yang selalu kau ucapkan muncul,

jika saat hanya kematianlah yang kuinginkan, dan kau masih menakutkan nama baikmu, membohongi semua orang dan perasaanmu sendiri,

apa lagi yang harus kusesali?

jangan salahkan aku atas rasa cintamu, atas perbuatanmu,

karena aku tak pernah memintamu memilih antara aku dan dia

aku tak pernah memaksamu melakukan apapun,

aku cuma ingin tau, antara aku dan ego mu sendiri, mana yang lebih kau cintai…

 

diantara siluet matahari merah besar yang perlahan terbenam,

teratai bertangkai panjang, dan tangis tak berkesudahan,

aku telah menyadari jawaban dari semua teka-teki yang;

tak pernah berani kau akhiri

 

selamat tinggal,

semoga kau temukan kedamaian….

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

bukan puisi

senja diguyur hujan. kemarahan membakar hati dan pikiranku. beberapa hari ini aku sakit. berjuang untuk sembuh dan berjuang untuk tetap hidup.

aku membenci kalian, yang telah mencuri bertahun-tahun kehidupanku. ya, aku menyalahkan kalian, setelah sekian ratus kali aku menyalahkan diriku sendiri. aku tidak akan menerima lagi tudingan-tudingan kalian. jika detik ini aku ketakutan untuk melakukan segalanya, itu salah kalian. karena sebelum keberadaan kalian, hidupku tidak seperti ini. aku selalu suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. kalian, yang hanya berteman berdasarkan kepentingan. kalian, yang merasa begitu hebat hingga semua orang yang berbeda dari kalian akan kalian hina. kalian yang merasa penderitaan kami adalah karena kegagalan genetis dalam diri kami. kalian yang mencemooh luka & cerita kami. kalian yang begitu busuk dalam hati dan pikiran. kalian yang bersembunyi dibalik nama tuhan dan jabatan. kalian yang bertopeng sepanjang hidup. kalian yang tidak pernah benar-benar berkawan. busuk. busuk. busuk. kalian hidup dalam mitos & ilusi, merasa paling hebat padahal kalian lebih rendah dari kotoran hina. kalianlah yang terbusuk.

semoga tuhan menjatuhkan karma atas perbuatan kalian seketika di dunia. amin.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

di Kehidupan kali ini

kugenggam tanganmu saat  ketakutan,

kupeluk kau saat kuterluka,

aku menemuimu saat aku merasa tidak bisa melakukan apa-apa…

dalam segala rasa pedih, aku mengingatmu

kaulah kekuatanku

dalam rasa lelah yang dalam saat hidup seringkali tak ramah,

aku singgah di hatimu

kaulah tempatku pulang…

di kehidupanku kali ini, mungkinkah aku meninggalkanmu?

sedangkan kau adalah rumah bagiku?

Tinggalkan komentar

Filed under puisi

sewarna kelabu

Abu-abu, warna musim hujan kali ini

mendung bergerak di langit langit

menumpahkan rindu dan haru

di tiap sudut tempat yang kulihat ada dirimu…

pada sebuah hulu jalan awal kita bertemu

lalu tatap matamu yang sebiru lautan

saat malam menjadi tak bertepi

hanya ada kau dan butiran hujan….

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

pilihlah

kau, kediamanku, dan ruangan itu

beberapa jam sebelumnya aku bergulat dengan tubuh dan perasaanku

lalu kau hadir

dan aku kian merasa

bahwa perasaan manusia hanyalah ilusi belaka

cinta, sayang, kekaguman

hanya tersusun dari penguatan-penguatan artifisial dalam dirimu

tidak ada yang namanya cinta sejati

karena cinta , seperti halnya hidup,

adalah pilihan.

dengan sekian konsekuensi, dari tiap cinta tersebut

jadi apa pilihanmu?

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Bersama hujan musim ini

aku menanti hujanmu, dalam kepekatan bermalam-malam rindu

lihatlah,

langit timur terbakar merah…

kau dimana?

kenapa kau memalingkan hati dari panggilanku?

waktu kita habis sudah…

dekap, hasrat, dan kasihmu akan menjadi uap,

mengakhiri musim hujan deras dalam dadaku.

hujanmu yang deras, menghambur, berbutir, sesekali berpetir….

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

sepahat wajah yang memejam

jangan berpaling

kau harus tahu,

aku selalu membaca raut wajahmu…

dalam lelapmu, dalam keseharianmu, dalam aliran emosi yang kau ungkapkan.

karenanya aku memahami alasanmu berada di sini.

bukan apa yang kau lakukan padaku,

bukan sesuatu yang berusaha kau buat aku merasakannya,

bukan tentang batasan dan konsekuensi,

ini tentang perasaanku yang kau dustakan…

sebesar apapun usahamu untuk membuatku senang

aku pasti bisa menembus kedalaman jiwamu

karena,

aku selalu mengamati raut wajahmu

yang meski kupuji indah, tapi kebenaran yang tergurat di sana

begitu menyakitiku…

yang meski selalu memberiku kekuatan untuk melawan beku malam,

melukaiku teramat dalam…

Tinggalkan komentar

Filed under puisi