ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu
jendela tetap seperti matamu
nafas langitpun dalam dan biru
hanya aku yang menjelma kata
mendidih
menafsirkanmu…
kau mungkin jalanan menikung-nikung itu
yang menjulur dari mimpi
yang kini meski kutempuh sebelum sampai di muaramu
sungguh tiadakah tempat berteduh disini?
kalau tak ada diantara jajaran cemara itu,
kepada siapa mesti kucari jejak nafasmu?
maghrib begitu deras
ada yang terhempas
tapi ada goresan yang tak akan terkelupas
[Sapardi Djoko Damono]
terima kasih pada Nuri yang mau membacakannya dgn begitu indah untukku…


wow, baru liat lagi puisi2nya dati..
aku lebih suka background yang inih.. beneran!! apalagi gambar bunganya.. beuuhh.. ada yg mekar, ada yang kuncup dan ada yang ga ada bunganya..
jgn diganti lagi ya :p
*jadi pengen denger cara nuri bacain..