aku mengingat kita

seperti halnya penggalan-penggalan kata di pandangan matamu subuh itu,
pada sebuah balkon berpagar barisan cemara…
udara sebeku lelapmu, kutinggalkan sendiri meski takkan lama lagi aku kembali
menemuimu dalam mimpi, mendekapimu dengan segenap yang kumiliki
hari ini, haruskah kutandai?
setelah tak terhitung sudah sakit yang mendera tubuhku…
meregang nyawa,
mengutuk seluruh syaraf yang ada,
menyumpah-serapahi hidup yang cuma membuatku menderita
tapi aku akan selalu meminta hal yang sama untuk mengobatinya;
keberadaanmu.
yang menenangkanku tanpa banyak bertanya
yang melakukan segalanya untuk membuatku tertawa
yang selalu mengerti,
selalu ada…
