17 Mei, 2009

balkon cemara

aku mengingat kita

slashpine

seperti halnya penggalan-penggalan kata di pandangan matamu subuh itu,

pada sebuah balkon berpagar barisan cemara…

udara sebeku lelapmu, kutinggalkan sendiri meski takkan lama lagi aku kembali

menemuimu dalam mimpi, mendekapimu dengan segenap yang kumiliki

hari ini, haruskah kutandai?

setelah tak terhitung sudah sakit yang mendera tubuhku…

meregang nyawa,

mengutuk seluruh syaraf yang ada,

menyumpah-serapahi hidup yang cuma membuatku menderita

tapi aku akan selalu meminta hal yang sama untuk mengobatinya;

keberadaanmu.

yang menenangkanku tanpa banyak bertanya

yang melakukan segalanya untuk membuatku tertawa

yang selalu mengerti,

selalu ada…

18 November, 2008

menunggu kekasih?

ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu

jendela tetap seperti matamu

nafas langitpun dalam dan biru

hanya aku yang menjelma kata

mendidih

menafsirkanmu…

kau mungkin jalanan menikung-nikung itu

yang menjulur dari mimpi

yang kini meski kutempuh sebelum sampai di muaramu

sungguh tiadakah tempat berteduh disini?

kalau tak ada diantara jajaran cemara itu,

kepada siapa mesti kucari jejak nafasmu?

maghrib begitu deras

ada yang terhempas

tapi ada goresan yang tak akan terkelupas

[Sapardi Djoko Damono]

terima kasih pada Nuri yang mau membacakannya dgn begitu indah untukku…